Jumat, 05 Februari 2016

ASAL MULA DAN POTENSI WISATA DESA BUNTALAN


ASAL MULA DAN POTENSI WISATA DESA BUNTALAN

Kebanyakan desa didalam Kota Bojonegoro memiliki dukuh yang lebih dari dua dukuh. Salah satunya yang berada pada Desa Buntalan, yaitu Dukuh Sampang dan Dukuh Buntalan. Nama desa Buntalan diambil dari Dukuh Buntalan, menurut sumber dari salah satu tokoh sejarah yang bergabung pada pemerintahan Bojonegoro yaitu Bapak Pangat mengatakan bahwa dikarenakan Dukuh Buntalan lebih tua dari Dukuh Sampang sehingga dipergunakaan Desa Buntalan sebagai nama desa disalah satu Kecamatan Tamayang. Dalam sejarah dukuh berarti Rukun Warga (RW), tetapi sebagian dari masyarakat tetap menggunakan kata Dukuh dalam suatu wilayah desa.
Sejarah Desa Buntalan tidak banyak diketahui oleh beberapa orang, dikarenakan situs dalam Desa Buntalan tidak banyak yang mendalami. Hanya beberapa orang yang tertarik dalam sejarah mengenai Desa Buntalan. Menemui salah satu orang yang berjasa dalam sejarah Desa Buntalan yaitu Bapak Pangat menceritakan bagaimana awal terjadi atau sejarah Desa Buntalan. Dalam cerita tokoh masyarakat yang bergulat dalam sejarah kota Bojonegoro khususnya Desa Buntalan mengatakan bahwa nama Desa Buntalan berawal karena dulu banyak Kerbau Buntal yang ciri-cirinya yaitu besar, berwarna coklat dan putih, seperti kerbau bule, sehingga disebut buntal atau kerbau buntal. Bapak Pangat tidak berada dalam situasi yang mengetahui bagaimana Desa Buntalan itu terbentuk, tetapi sumber tersebut dapat dipercaya karena kota Bojonegoro sudah membentuk orang-orang sejarah yang meneliti dan berkerjasama dalam beberapa universitas, sehingga sejarah Desa Buntalan dapat dipercaya sebagai yang mendekati kebenaran.
Dalam Desa Buntalan terdapat Dukuh Sampang. Tetapi itu bukan menjadi patokan bahwa asal mula Dukuh Sampang ialah dari kata sampingan. Pak pangat mengatakan dalam wawancara pada tanggal 25 januari 2016, mengatakan bahwa asal mula Dukuh Buntalan karena diambil dari nama pohon Buntalan yang pada saat itu banyak di daerah Desa Buntalan. Sebelum dijadikan sebuah desa beberapa wilayah berawal dari hutan yang dipenuhi dengan pohon Sampang, dijelaskan bahwa pohon Sampang seperti pohon buah asem tetapi memiliki daun yang besar seperti pohon belinjo tetapi struktur dari daunnya tidak mengkilap layaknya daun melinjo. Pendapat dari narasumber pak Pangat bisa diterima, karena dari beberapa masyarakat yang juga mengetahui bagaimana desanya dahulu dikelilingi dengan pohon Sampang. Walau saat ini tidak ada lagi keturunan atau sisa dari pohon sampang tersebut.
Awal mula sebelum bernama Bojonegoro, yang ada hanyalah sebuah hutan rimba yang luas yang diapit oleh pegunungan kapur utara dan selatan, serta dialiri sungai Solo dan Berantas. Kira-kira pada tahun 1000-an, di hutan tersebut mulai didiami oleh orang-orang dari Kerajaan Medang Kamulan. Semula hutan tersebut bernama alas tua dan setelah didiami beberapa orang imigran dari Jawa Tengah, maka timbul perkampungan-perkampungan, misalnya perkampungan Gadung, Rahu (Ngaho), Badander (Dander), Toja Adiluwih dan lain sebagainya. Perkampungan tersebut terikat dalam persukuan atas dasar keluarga masing-masing. Setiap persukuan memiliki kepala suku, gambaran dari persukuan tersebut seperti suku Dayak yang di pedalaman. Lambat laun, akhirnya perkampungan tersebar hingga terbentuk Dukuh Buntalan dan Dukuh Sampang, serta Dukuh-dukuh lainnya.
Desa Buntalan secara administrasi berada di Kecamatan Tamayang, Kabupaten Bojonegoro. Desa ini berada tepat diperbatasan Kecamatan Tamayang dengan kecamatan Dander, dan kecamatan Suko Sewu. Sebelah Timur berbatasan dengan desa Pancur Kecamatan Tamayang, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Jono Kecamatan Tamayang.
Adapun beberapa kepala desa yang pernah menjabat, yaitu:
1.      Mbah Senggrok
2.      Cokro Sentono
3.      Prayitno
4.      Nirman (Cokro Wijoyo)
5.      Pujiantoro
6.      Dr. Sujoko
7.      Muntoro
Didesa Buntalan ini, terdapat beberapa tempat atau situs antara lain:
1.      Sendang Sampang
Sendang sampang dulunya adalah merupakan sebuah telaga Majunda dimana sendang ini terdapat sumber mata air yang besar di berbagai titik. Selain itu, sendang ini dipergunakan oleh masyarakat setempat untuk pasokan minum dan dipergunakan untuk mengairi sawah yang berada di sekitar lokasi sendang tersebut. Selain itu Sendang Sampang ini, dipercayai oleh masyarakat dan masyarakat diluar desa. Dan keluar kabupaten Bojonegoro airnya bisa untuk mengobati atau menyembuhkan orang sakit dan kalau mandi bisa awet muda dan lepas dari kesialan. Sendang Sampang mudah terjangkau dari transportasi karena 150 m dari jalan raya Nganjuk Bojonegoro.
2.      Sendang Kedung Mundung
Sendang Kedung Mundung, merupakan sumber mata air yang sangat jernih dan di percaya sebagai punden masyarakat dusun Buntalan dan di dapati punden Sendang Kedung Mundung itu adalah perempuan sebagai penunggunya.
3.      Sumur Bandung
Sumur Bandung adalah sumber mata air yang besar, dan airnya bisa mengairi lahan pertanian di sekitarnya.Sumber Bandung di percaya bisa untuk menaikan tahta dan derajat manusia, karna sumur bandung konon adalah mata air yang di sakralkan oleh para adipati dan para demang dahulu. Volume air yang di keluarkan cukup besar namun seiring waktu sumber tersebut teuruk endapan tanah hingga volume air mengecil seperti sekarang.Selain beberapa situs Sendang Desa Buntalan juga terdapat situs fosil ikan paus dan penyebaran fosil gigi ikan hiu.
4.      Fosil Ikan Hiu
Fosil ikan paus purba yang di amankan oleh Supangat S.H sejak tahun 2011 merupakan temuan langkah. Oleh karena itu fosil ikan paus purba ini adalah merupakan adalah situs yang ada di desa Buntalan ini sangat penting dan berarti bagi ilmu Pengetahuan Geologi, Paelontologi, Arkeologi dan sejerah terbentuknya Bumi Bojonegoro, keberadaan fosil ikan paus ini di bukit kendeng yang jauh dari laut ini merupakan salah satu bukti penting bagi Dunia penelitian modern Hipotesa bahwa wilayah Bojonegoro dahulu adalah bekas laut dalam dan hal ini perlu di buktikan dengan penelitian yang prefesional.



Temuan                                              : Fragmen fosil ikan paus purba
Ordo                                                   : Cetacea           
Asal                                                    : Bojonegoro
Usia                                                     : Kurang lebih masa plioson atas – pliosen bawah (3jta – 700                  tahun yang lalu)
Penemu                                              : Serda Supangat .SH
Waktu                                                : Agustus 2012
Fosil ikan paus purba Bojonegoro ini merupakan temuan satu – satunya di Asia. Adapun temuan fosil Ikan Paus Purba di dunia antara lain :
1.        Fosil Paus Wadi Al Hitan di Mesir tahun 1902
2.        Fosil Paus Purba di Gurun Pisco Ica, Peru tahun 2008
3.        Kubur massal Fosil Paus Purba di Cerro Ballena, Cile tahun 2010
4.        Fosil Paus Purba di Kutub Selatan tahun 2011
5.        Fosil Paus Purba di Bojonegoro, Indonesia tahun 2012
6.        Fosil Paus Purba di California, Amerika Serikat tahun 2014

            

Senin, 01 Februari 2016

WISATA CAGAR BUDAYA BUNTALAN


Kabupaten Bojonegoro memiliki berbagai tempat wisata yang bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat baik lokal maupun mancanegara. 

 wisata alam yang di sebut surga tersembunyi oleh warga bojonegoro khususnya oleh warga desa buntalan kecamatan temayang. seperti destinasi wisata yang ada di Desa Buntalan, Kecamatan Temayang yaitu Sendang dan Sumur Sumber Manong. 

Dua wisata ini terletak didalam satu tempat yaitu cagar budaya. Sendang merupakan sumber mata air yang digunakan masyarakat sekitar untuk kebutuhan sehari-hari. Dulu Sendang digunakan untuk mandi, untuk minum, untuk cuci baju. 

Namun, saat ini dengan berkembangnya zaman yang semakin modern, masyarakat menggunakan daya mesin genset untuk mengairi sawah dan juga kamar mandi di masing-masing rumah. Tidak hanya itu, Sendang dipercaya masyarakat sebagai obat untuk berbagai penyakit. Didesa Buntalan memiliki 3 Sendang, yaitu Sendang Sampang, Sendang Buntalan, dan Sendang Dumunung. Sendang Sampang terletak di Dusun Sampang, tepatnya di dalam Cagar Budaya Sendang. Sampai saat ini Sendang Sampang masih banyak dikunjungi masyarakat unuk mandi, cuci dan juga mengairi sawah. Di Sendang Sampang terlihat masih asri dan alami. 

Banyak pepohonan rindang didalamnya, ada batas pagar Sendang antara pria dan wanita. Terdapat satu tempat yang di khususkan untuk masyarakat yang ingin meminum air Sendang yang dikenal dengan sumber mata airnya.



sumber mata air yang terus memancar setiap tahun, menjadi tumpuhan hidup warga desa, khususnya warga buntalan yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani. sumber mata air dapat membantu warga, salah satunya untuk di jadikan sarana untuk membantu warga desa dalam mengairi persawahan mereka. sumber air yang terus keluar meski dalam musim kemarau meskipun debitnya tidak begitu banyak pada musim penghujan. 

air yang begitu jernih memancar keluar dari celah-celah bebatuan yang ada di sumber mata air. hal ini menjadi keunikan tersendiri bagi masyarakat yang pernah berkunjung dan menikmati panorama di sekitar cagar budaya. 

tempat ini mudah di jangkau dari pusat kota bojonegoro. sekitar 20,9 km dari alun-alun kota. sendang sampang menyuguhkan lingkungan alam yang sangat mempesona karena di kelilingi oleh pohon-pohon yang sangat indah dan terjaga.


Keunggulan dari cagar budaya wisata ini yaitu tempat yang sangat elok untuk dijadikan tempat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga ataupun dengan para sahabat. sungai yang sangat jernih dengan keadaan sekelilingnya yang sejuk dan tentu saja bebas dari polusi menjadi pelepas penat. 

sayangnya keindahan cagar wisata ini masih belum terekspose ke khalayak umum. masih sedikit orang yang tahu akan tempat sendang sampang. mungkin hanya warga di sekitar desa yang tahu akan cagar budaya ini. 


Sejarah Kabupaten Bojonegoro

Sejarah Kabupaten Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro merupakan kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Timur. Kabupaten Bojonegoro berbatasan dengan kabupaten Tuban di utara, Kabupaten Lamongan di timur, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Madiun, dan Kabupaten Ngawi di selatan, serta Kabupaten Blora (Jawa Tengah) di barat. Bagian barat Bojonegoro (perbatasan dengan Jawa Tengah) merupakan bagian dari Blok Cepu, salah satu sumber deposit minyak bumi terbesar di Indonesia.


Di waktu masa Maha Raja Balitung (th – 910 M) yang menguasai Jawa Tengah dan Jawa Timur daerah yang sekarang dikenal dengan nama Bojonegoro belumlah ada. Yang ada hanyalah hutan luas yang diimpit oleh pegunungan kapur di sebelah selatan dan utara yang dilewati sungai bengawan solo dan sungai brantas.

 Hutan ini baru ditempati kira-kira tahun 1000 masehi oleh orang-orang Keratin Madang Kemulan. Awal mulanya hutan ini diberi nama alas tuo (hutan tua), namun setelah masyarakat imigran dari Jawa Tengah datang, mulailah banyak didirikan desa-desa di sekitar hutan. Diantaranya adalah Desa Gadung, Desa Dander dan sebagainya.

Para pendatang yang mendirikan desa-desa itu membuat masyarakat sendiri berdasarakan hubungan keluarga. Di tiap-tiap masyarakat tersebut terdapat kepala desa. Di antara kepala desa tersebut, ada yang bernama Ki Rahadi yang menguasai Dukuh Randu Gempol. Akibat masuknya kebudayaan hindu yang di terima Ki Rahadi, maka cara pemerintahan yang sedang ia pegang cenderung meniru cara pemerintahan hindu.

Kemudian nama Ki Raharadi di ubah menjadi Rakai Purnawakilan. Dukuh Randu Gempol diubah menjadi Kerajaan Hurandhu Purwo (sekarang tempatnya di Plesungan, Kapas). Beliau mengangkat dirinya sendiri menjadi raja yang mempunyai aliran Syiwa. Kerajaan diperluas dari Gunung Pegat hutan Babatan (sekarang Babat), sampai Purwosari Cepu dan Jatirogo (Tuban) sampai layaknya benteng pertahanan kerajaan. Pusat kerajaan berlokasi di daerah Kedaton (sekarang di daerah Kapas).
Jalan propinsi kota Bojonegoro antara lain ; Jl. Gajah Mada, Dipenogoro, Kartini, AKBP M. Sueroko sampai Jalan Jaksa Agung Suprapto. Jalan-jalan tersebut dulunya masih berupa sungai besar yang sekarang dinamakan Sungai Bengawan Solo yang waktu itu ramai sekali digunakan untuk perdagangan. Dulu, raja senang sekali berburu, dan saat ini tempat yang dulu sering digunakan sebagai tempat berburu raja berada di Desa Padang dan Sumberarum. Kerajaan Hurarandu Purwa musnah bersamaan dengan hilangnya raja rakai pikatan secara turun menurun.

Di awal abad 19, Indonesia berada dibawah kekuasaan pemerintahan Belanda. Di tahun 1824 ada 3 daerah di sekitar b\Bojonegoro yang belum ikut dalam pemerintahan Belanda yaitu daerah:
1. Kabupaten Mojoranu (dander) yang dipimpin oleh bupati R.T. Sosrodiningrat.
2. Kabupaten Padangan (desa pasinan) yang di pimpin oleh bupati R.T. Prawirogdo
3. Kabupaten Baurno (desa kauman) yang dipimpin oleh Bupati R.T. Honggrowikomo

 Ketiga bupati di atas, berada di bawah pengawasan Bupati Madiun yang bernama R.T Ronggo yang mewakili Kerajaan Mataram di Jawa Tengah. Waktu itu nama Bojonegoro belum ada. Pemerintahan Belanda menginginkan ketiga kabupaten dijadikan satu dan dibentuk sebuah kabupaten baru yang ikut dalam wilayah pemerintahan Belanda. Untuk keperluan tersebut, akhirnya tiga bupati di atas diajak bermusyawarah di daerah Padangan. Hal ini terjadi pada tahun 1826. Akan tetapi ketidakhadiran Bupati Mojoranu yaitu R.T Sosrodinigrat yang sedang berpergian ke Desa Cabean di daerah Rejoso Nganjuk, dapat dijadikan alasan untuk mengurungkan niat penggabungan kabupaten tersebut.

Selama perginya Bupati Mojoranu, pemerintahan Kabupaten Mojoranu diserahkan kepada Pateh Demang R. Sumosirjo beserta putra-putrinya yaitu R.M Sosrodilogo, dan R.M Surratin yang waktu itu masih bertempat tinggal di daerah Nganjuk, dan masih belajar agama di daerah Ngithitik. 

Keinginan Pemerintahan Belanda untuk menyatukan tiga daerah tersebut akhirnya gagal. Kemudian Pemerintah Belanda memasang rambu-rambu di wilayah Mojoranu, dan membuat sebuah daerah tandingan yang di beri nama Kabupten Rajekwesi, sekaligus membuat penjara. Pemerintahan Belanda mengangkat R.T Purwonegoro menjadi Bupati Rajekwesi yang waktu itu masih berstatus sebagai Bupati Probolinggo, namun hanya untuk semestara. Pusat kabupaten waktu itu berlokasi di daerah Ngumpak Dalem.

 Karena pemerintahan R.T Purwonegoro di Rejekwesi tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh Belanda, maka Belanda mengangkat R.T Joyonegoro, anak R.T Purwonegoro untuk menggantikan bapaknya. Di masa pemerintahan Belanda, Kapubaten Mojoranu dianggap tidak ada. Melihat kenyataan yang demikian, R.T Sosrodilogo akhirnya mengadakan hubungan dengan Pangeran Dipenogoro di Mataram. Disuatu waktu R.T Joyonegoro malihat R.M Suratin, dan R.T Sosrodiningrat sebagai Bupati Mojoranu memakai kebesan kerajaan. Saat itu juga R.M Suratin ditangkap dan dijebloskan ke penjara Rajekwesi. Kejadian itu diketahui R.T Sorodilogo. Setelah berunding dengan Patih Demangan R. Sumodirojo dan Demang Kapoh, maka R.T Sosrodilogo meminta bantuan kepada Pengeran Dipenogoro dari mataram.

Akhirnya dikirimlah bala bantuan sebanyak 40 orang. Kejadian tersebut sengaja di buat hingga akhirnya terjadi peperangan kecil diantara Mojoranu dan Rajekwesi. Ke-40 orang dari Mataram kemudian ditawan dan Pateh Demangan R. Sumodirjo gugur dan dimakamkan di Desa Bendo (kapas). R.T Sosrodilogo juga dimasukan ke penjara dan dituduh sebagai pemberontak. Dipenjara Rajekwesi, R.T Sosrodilogo bertemu dengan adiknya R.M Suratin. Keduanya bekerjasama untuk mengadakan pemberontakan dengan perencanaan yang lebih matang dan rapi. Akhirnya keduanya bisa lepas dari penjara dan peperangan dimulai kembali. Kabupaten Rajekwesi dikepung dari berbagai arah. Dalam peperangan ini Patih Somodikaran gugur dan dimakamkan di desa yang sekarang disebut Desa Sumodikaran (dander). Kekuatan Kerajaan Rajegwesi melemah. Pasukan Mojoranu terus maju dan mendesak pasukan rajekwesi. Pada akhirnya Rajekwesi pun hancur. Pemerintahan Belanda mendirikan markas kecil dan pos-pos pertahanan di daerah yang masih mereka kuasai, diantaranya; Rembang Blora. Rajekwesi, Bancar, Jatirogo, Planturan, Babat, Kapas dll. Pasukan Belanda semakin meningkatkan pertahanannya untuk mengimbangi pemberontakan rakyat. Sementara itu pahlawan R.T Sosrodilogo di rajekwesi dan sekitarnya .

Kemenangan Sosrodilogo bersama pengikut merebut rajekwesi akhirnya menimbulkan semangat perlawanan terhadap belanda di daerah lain. Kota Baorno yang diduduki belanda yang berada di perbatasan Surabaya dan tuban meraka kewalahan dan terancam. Pasukan rakyat juga menguasai daerah selatan padangan. Diteruskan kemudian akanmenyerang kota ngawi. Bisa dikatakan diakhiri. Tahun 1827 di daerah rajekwesi di penuhi dengan pemberontakan dan peperangan. Pahlawan rakyat melawan pemrenthan belnda si awali dari pecahnya oerang di penogoro di mataram pda tahun 1825. R.T Sosrodilogo yang memimpin pasukannya merebut rejekwesi sempat juga di jadikan perwira pasukan kraton Yogyakrata dan pangeran dipenogoro. Perlawanan rakyat juga dialami di kota blora dipimpin oleh Raden Ngabel Tortonoto yang akhirnya menguasai kota blora. Akhirnya kota rajekwesi dibakar hangus oleh pasukan mojoranu R.T Sosrodilogo bersama pasukannya menguasai semua daerah sekitar kabupaten rejekwesi. Bupati rajekwesi R.T joyonegoro melarikan diri meminta ke bupati sedayu. Sebelum sampai kabupaten sedayu teryata R.T joyonegoro bertemu dengan bupati sedayu di bengawan solo yang sudah siap dengan bala tentaranya yang akan membantu R.T joyonegoro.

Kabupaten sedayu merupakan sekutu rajekwesi yang sama-sama mengakui kekuasaan pemerentahan belanda. Di pinggir daerah rajekwesi bupati sedayu bersama pasukanya mendirikan markas-marakas kecil sementara pasukan lainya diperentah untuk menyerbu kabupaten mojoranu. Sesampai di kabupaten mojoranu pasukan sedayu bertempur dengan pasukan mojoranu. Pasukan sedayu yang berasal dari orang-orang masura dan makasar akhirnya terdesak dan kembali ke markasanya. Kota rajekwesi akhirnya diduduki oleh R.T Sosrodilogo salah satu kesalahan besar pasukan rakyat adalah setelah mengalami kemenangan dalam peperangan.

Banyak dari pasukan itu mau bersenang-senang dahulu sebelum meneruskan peperangan selanjutnya. Hal ini di manfaatkan oleh belanda untuk mengumpulkan dan menata kekuatan kembali. Bantuan dari belanda mengalir terus menerus ke rembang dan rejekwesi. Pasukan belandaa dari padangan akhirnya dikirim masuk ke kota rajekwesi pasukan rakyat semakin terdesak. mojoranu dapat dikalahkan R.T Sosrodilogo bersama pasukan yang tersisa melarikan diri. Pada tanggal 26 januari 1828 belanda dapat memasuki kota rajekwesi. R.T Sorodilogo malarikan diri ke arah selatan planturan. Semangat pangikut R.T Sosrodilogo menjadi lemah. Pada tanggal 7 maret 1828 bisa dikatakan pahlawan rakyat di daerah rembang. Rajekwesi dan lain-lain dianggap rampung. R.T Sosrodilogo bersama saudarannya yaitu raden bagus menjadi buronan oleh pihak belanda. Belanda mengadakan seyembara untuk menangkap kesua orang tersebut. Raden bagus akhirnya diserahkan kepada bupati setempat R.T Sosrodilogo melarikan diri ke jawa tengah dan bergabung dalam peperangan dipenogoro. Namun ahirnya pada tanggal 3 oktober 1828 R.T Sosrodilogo menyerah kepada belanda.

Setelah peperangan usai maka pemerentahan belanda mengundang R.T Sosorodilogo dan bupati sedayu menghadiri pesta besar-besaran (suka-suka bojono) untuk merayakan keberhasilan mengalahkan pasukan mojoranu. Saat itu pula pemerentah belanda mengangkat R.T Joyonegoro menjadi bupati bojonegoro. Nama kabupaten bojonegoro di ambil untuk menggantikan kerajaan rajekwesi yang sudah hancur. BOJO yang berarti bersenang-senang dalam perayaan tersebut. Sedangkan NEGORO berati Negara. Saat itu pemerentahan belanda dipimpin oleh H. Marcus De Kock dengan perangkat Letnan Gubernur Jendar (1826-1830). R.T Joyonegoro Bupati Bojonegoro 1827-1844.

 Berdasarkan cerita pusat kabupaten rejekwesi dulunya terletak di daerah Ngumpak Dalem, maka setelah peperangan dipindah ke daerah boghadung yang terletak di sebelah utara rajekwesi. Berdasarkan pertimbangan pada pejabat waktu itu. Tidak baik mendirikan Negara di lokasi yang sama dengan alas an rejekwesi pernah kalah dalam peperangan mojoranu. Desa Boghadung yang terletak sebelah utara bengawan solo masih ikut darah tuban waktu itu. Di tahun 1828 bengawan solo sudah terpecah menjadi dua aliran. Desa Boghadung yang tedinya berada di sebelah utara bengawan. Setelah pindah di Boghadung ini kabupaten rajekwesi berubah menjadi nama Bojonegoro. Di sini di berkembang cerita bahwa kata BO dari bojonegoro diambil dari kata Boghadung yang akhirnya menjadi kata Bojonegoro.

Ada pula cerita lain yang mengatkan bahwa bojonegoro berasal dari kata BOJON yang artinya Sugu atau tanah yang diberikan untuk Negara dari daerah Tuban. R.T Joyonegoro beserta keluarganya pindah ke Bojonegoro dan pension menjadi bupati bojonegoro pada tahun 1844.

Dengan berkembangnya budaya baru yaitu Islam, pengaruh budaya Hindu terdesak dan terjadilah pergeseran nilai dan tata masyarakat dari nilai lama Hindu ke nilai baru Islam dengan disertai perang dalam upaya merebut kekuasaan Majapahit (wilwatikta). Peralihan kekuasaan yang disertai pergolakan membawa Bojonegoro masuk dalam wilayah Kerajaan Pajang (1586), dan kemudian Mataram (1587). Pada tanggal 20 Oktober 1677, status Jipang yang sebelumnya adalah kadipaten diubah menjadi kabupaten dengan Wedana Bupati Mancanegara Wetan, Mas Tumapel yang juga merangkap sebagai Bupati I yang berkedudukan di Jipang. Tanggal ini hingga sekarang diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Bojonegoro. Tahun 1725, ketika Pakubuwono II (Kasunanan Surakarta) naik tahta, pusat pemerintahan Kabupaten Jipang dipindahkan dari Jipang ke Rajekwesi, sekitar 10 km sebelah selatan kota Bojonegoro sekarang.